Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
banner 728x250
Berita

Jalur Prestasi SPMB Disorot: Piagam Palsu Singkirkan Siswa Asli?

41
×

Jalur Prestasi SPMB Disorot: Piagam Palsu Singkirkan Siswa Asli?

Sebarkan artikel ini
Analis Kebijakan Ahli Utama, Drs H Reza Fahlevi MM.
Analis Kebijakan Ahli Utama, Drs H Reza Fahlevi MM.
Example 468x60

Palembang, OPSI.co.id | Menjelang pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027, jalur prestasi kembali menjadi perhatian publik.

Skema ini dipandang sebagai jalur penting bagi siswa yang memiliki rekam jejak unggul di bidang akademik maupun non akademik untuk menembus sekolah negeri favorit. Namun, di tengah tingginya antusiasme masyarakat, tuntutan terhadap seleksi yang bersih dan objektif semakin menguat.

Example 300x600

Jalur prestasi dinilai tidak boleh hanya menjadi prosedur administratif semata. Setiap sertifikat, piagam, medali, hingga bukti kemenangan lomba harus diperiksa secara teliti agar hak siswa yang benar-benar berprestasi tidak tersisih oleh dokumen yang diragukan keabsahannya. Transparansi menjadi syarat utama agar kepercayaan masyarakat terhadap sistem penerimaan tetap terjaga.

Analis Kebijakan Ahli Utama, Drs H Reza Fahlevi MM menjelaskan bahwa SPMB saat ini dibuka melalui beberapa jalur, antara lain domisili, afirmasi, prestasi akademik, prestasi non akademik, serta tes akademik. Menurut dia, seluruh jalur tersebut harus berjalan seimbang dengan tujuan memberi akses pendidikan yang adil sekaligus menjaga mutu sekolah.

Ia menilai jalur prestasi memiliki makna lebih dari sekadar pintu masuk sekolah unggulan. Jalur ini merupakan bentuk penghargaan terhadap pelajar yang selama bertahun-tahun berlatih, berkompetisi, dan membawa nama baik sekolah di berbagai ajang. Karena itu, seleksinya harus benar-benar berpihak kepada siswa yang layak.

Ia juga menyinggung posisi sekolah unggulan negeri yang seharusnya menjadi pusat lahirnya siswa berprestasi. Akan tetapi, dalam banyak perlombaan, dominasi justru kerap datang dari sekolah swasta yang mampu tampil konsisten dan kompetitif.

“Sekolah negeri unggulan harus berani melakukan evaluasi. Jangan hanya besar pada nama, tetapi minim prestasi. Kalau ingin dipercaya masyarakat, maka prestasi siswa harus menjadi ukuran utama,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut menjadi alarm bagi sekolah negeri untuk memperkuat pembinaan peserta didik, meningkatkan kualitas pendampingan guru, serta membangun budaya kompetisi sehat di lingkungan sekolah. Dengan pembinaan yang terarah, sekolah negeri diyakini mampu kembali bersaing di level kota, provinsi, bahkan nasional.

Khusus jalur prestasi non akademik pada jenjang SMA dan SMK, Reza menegaskan perlunya verifikasi yang lebih detail. Setiap bukti penghargaan harus dapat dipertanggungjawabkan, mulai dari sertifikat resmi, dokumentasi kegiatan, hingga identitas penyelenggara lomba. Langkah ini dinilai penting untuk menutup celah manipulasi data.

“Harus ada pemeriksaan serius. Jangan sampai siswa yang sungguh-sungguh berjuang kalah oleh berkas yang tidak valid. Sistem harus melindungi mereka yang memang berprestasi,” katanya.

Selain itu, ia mendorong sekolah-sekolah agar lebih aktif mendata siswa berpotensi sejak awal dan membantu menyiapkan kelengkapan administrasi. Banyak siswa berprestasi, kata dia, gagal memanfaatkan peluang hanya karena kurang informasi atau terlambat melengkapi berkas.

Menurutnya, sekolah unggulan sejatinya tidak ditentukan oleh bangunan megah atau fasilitas mewah, melainkan oleh kualitas lulusan dan prestasi yang dihasilkan siswanya secara berkelanjutan.

Ia berharap momentum SPMB tahun ini menjadi titik balik kebangkitan sekolah negeri di Sumatera Selatan, khususnya Palembang, untuk kembali menjadi kekuatan utama dalam dunia pendidikan dan kompetisi pelajar.

“Jika pembinaan dilakukan serius dan seleksi dijalankan jujur, sekolah negeri pasti bisa kembali berdiri di garis depan. Prestasi siswa adalah cermin mutu pendidikan kita,” pungkasnya. (HBM)

Example 300250
Example 120x600