Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita

Busana Adat SMPN 18 Palembang di Hari Kartini 2026

10
×

Busana Adat SMPN 18 Palembang di Hari Kartini 2026

Sebarkan artikel ini
Pembagian hadiah pembinaan busana Kartini di SMPN 18 Palembang sebagai bentuk apresiasi dan motivasi bagi guru.
Pembagian hadiah pembinaan busana Kartini di SMPN 18 Palembang sebagai bentuk apresiasi dan motivasi bagi guru.
Example 468x60

Palembang, OPSI.co.id | Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 18 Palembang, Selasa 21 April 2026, tak sekadar menghadirkan kemeriahan busana adat. Di balik deretan kebaya dan pakaian tradisional yang dikenakan guru, staf, dan siswa, sekolah ini justru menegaskan satu hal mendasar emansipasi bukan ritual tahunan, melainkan sikap hidup yang harus dihidupi.

Sejak pagi, suasana sekolah berubah. Halaman yang biasanya menjadi ruang aktivitas rutin, hari itu menjelma menjadi ruang refleksi. Kegiatan yang lazimnya bersifat seremonial diarahkan menjadi sarana membangun kesadaran tentang posisi perempuan di tengah perubahan zaman yang kian cepat dan kompleks.

Example 300x600

Kepala sekolah, Nofritawati, menegaskan bahwa makna Kartini tak boleh berhenti pada simbol.

“Perempuan hari ini tidak cukup hanya hadir. Mereka harus mampu bersaing, berkontribusi, dan memberi dampak nyata. Emansipasi bukan slogan, tetapi tindakan,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa kemajuan tidak boleh menggerus nilai. Menurutnya, kekuatan perempuan justru terletak pada keseimbangan antara kiprah di ruang publik dan tanggung jawab moral yang menjadi fondasi kehidupan.

“Perempuan boleh berada di ruang mana pun, tetapi akar nilai tidak boleh hilang. Karakter tetap dibangun dari keluarga dan pendidikan,” katanya.

Dalam momentum ini, siswa tidak hanya diajak merayakan, tetapi juga memahami. Pemikiran R. A. Kartini diperkenalkan lebih dalam melalui literasi dan diskusi. Surat-surat Kartini menjadi bahan refleksi tentang keberanian melawan keterbatasan tanpa kehilangan martabat.

Pesan itu diarahkan tegas kepada generasi muda. Siswi didorong memaknai emansipasi secara bijak bukan kebebasan tanpa arah, melainkan kemampuan bertanggung jawab atas pilihan hidup. Sementara siswa laki-laki diingatkan untuk menumbuhkan sikap menghargai perempuan sebagai fondasi hubungan sosial yang sehat.

Rangkaian kegiatan pun dirancang tidak sekadar meriah. Lomba busana Kartini digelar dengan penilaian yang menekankan tidak hanya penampilan, tetapi juga sikap, pemahaman, dan kepercayaan diri. Penghargaan yang diberikan menjadi bentuk apresiasi sekaligus motivasi bagi siswa untuk terus berkembang.

Bagi Nofritawati, esensi peringatan ini terletak pada dampaknya. Ia menolak jika kegiatan hanya berhenti sebagai agenda tahunan tanpa makna.

“Kami ingin siswa tidak hanya merayakan Kartini, tetapi meneladani. Perempuan harus berdaya, laki-laki harus menghargai. Di situlah keseimbangan terbentuk,” ujarnya.

Ia berharap nilai-nilai yang ditanamkan mampu membentuk karakter siswa menjadi pribadi yang tangguh, berintegritas, dan adaptif menghadapi perubahan zaman.

“Sekolah bukan hanya tempat mentransfer ilmu, tetapi membentuk manusia. Kartini mengajarkan keberanian berpikir dan menjaga martabat. Nilai itu yang harus terus hidup,” tutupnya.(Hasan Basri)

Example 300250
Example 120x600