PALEMBANG, opsi.co.id l Di tengah derasnya arus informasi digital, menumbuhkan minat baca dan kemampuan menulis di kalangan pelajar menjadi tantangan tersendiri. Menjawab tantangan tersebut, SMK Negeri Sumatera Selatan menghadirkan sebuah inovasi sederhana namun sarat makna, yakni Pohon Literasi, sebuah media kreatif yang dirancang untuk menumbuhkan budaya membaca, menulis, dan berpikir kritis di lingkungan sekolah.
Pohon Literasi kini mulai menghiasi ruang-ruang kelas di SMKN Sumsel. Bentuknya menyerupai pohon yang rindang dengan ranting dan dedaunan yang dipenuhi berbagai karya tulis siswa. Mulai dari kutipan inspiratif, hasil resensi buku, puisi, cerpen pendek, hingga gagasan dan refleksi pribadi, semuanya menjadi bagian dari “daun-daun” yang memperkaya pohon tersebut.
Program ini digagas oleh guru Bahasa Indonesia, Ica Alma, S.Pd., yang ingin menghadirkan suasana pembelajaran yang lebih hidup, kreatif, dan dekat dengan dunia siswa.
Menurut Ica, literasi tidak cukup hanya diajarkan melalui teori di dalam buku pelajaran. Literasi harus dihadirkan dalam bentuk aktivitas yang menyenangkan sehingga mampu membangun kebiasaan dan kecintaan siswa terhadap membaca serta menulis.
“Pohon Literasi ini saya rancang agar siswa merasa lebih dekat dengan kegiatan literasi. Mereka tidak hanya membaca, tetapi juga terdorong untuk menuangkan ide, gagasan, dan pengalaman mereka dalam bentuk tulisan. Dengan cara ini, literasi menjadi aktivitas yang menyenangkan dan tidak terasa sebagai beban,” ujarnya.
Ia berharap media tersebut dapat menjadi ruang ekspresi yang mendorong keberanian siswa untuk menyampaikan pemikiran mereka secara tertulis sekaligus meningkatkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.
“Harapannya, minat membaca, keterampilan menulis, serta keberanian mengemukakan pendapat dapat tumbuh dan berkembang. Seperti sebuah pohon yang dirawat dengan baik, budaya literasi juga membutuhkan perhatian dan pembiasaan agar terus bertumbuh,” tambahnya.
Inovasi tersebut mendapat apresiasi penuh dari Kepala SMK Negeri Sumatera Selatan, Drs. Zulkarnain, M.T. Menurutnya, Pohon Literasi menjadi salah satu langkah nyata dalam memperkuat Gerakan Literasi Sekolah sekaligus membangun karakter peserta didik yang kreatif, komunikatif, dan berwawasan luas.
“Pohon Literasi bukan sekadar hiasan kelas. Di sana terpajang karya-karya asli siswa yang lahir dari pemikiran dan kreativitas mereka sendiri. Ini menjadi ruang apresiasi sekaligus motivasi agar siswa semakin percaya diri untuk menulis dan berkarya,” kata Zulkarnain.
Ia menilai budaya membaca dan menulis harus terus ditanamkan sejak dini karena menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi perkembangan zaman yang semakin kompetitif.
Menurutnya, lulusan sekolah vokasi tidak hanya dituntut memiliki keterampilan teknis sesuai bidang keahlian, tetapi juga kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, serta menyampaikan ide secara efektif.
“Kami ingin membangun generasi yang tidak hanya terampil bekerja, tetapi juga memiliki wawasan luas, kemampuan berpikir yang baik, dan budaya literasi yang kuat. Karena itu, program seperti Pohon Literasi sangat penting untuk terus dikembangkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, ke depan, pihak sekolah berencana memperluas penerapan Pohon Literasi ke seluruh kelas sehingga semangat membaca dan menulis dapat tumbuh merata di lingkungan sekolah.
Melalui langkah sederhana namun berdampak besar ini, SMK Negeri Sumatera Selatan menunjukkan bahwa membangun budaya literasi tidak selalu membutuhkan fasilitas yang rumit. Dengan kreativitas, komitmen, dan ruang yang memberi kesempatan kepada siswa untuk berkarya, literasi dapat tumbuh subur dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di sekolah.
“Pohon Literasi pun bukan sekadar pajangan di sudut kelas. Ia menjadi simbol tumbuhnya gagasan, kreativitas, dan semangat belajar yang terus berkembang, sekaligus menegaskan komitmen SMKN Sumsel dalam mencetak generasi yang cerdas, terampil, dan berkarakter,” tutupnya.




















