Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
banner 728x250
Berita

Peduli Pendidikan, Mondyaboni Salurkan Bantuan Gubernur Sumsel untuk Siswa SMPN 48 Palembang

54
×

Peduli Pendidikan, Mondyaboni Salurkan Bantuan Gubernur Sumsel untuk Siswa SMPN 48 Palembang

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan Mondyaboni menyerahkan bantuan dari Gubernur Sumsel Herman Deru kepada Muhammad Zurian, siswa SMP Negeri 48 Palembang, Jumat (11/9/2026). Bantuan tersebut diberikan untuk mendukung Zurian tetap mengikuti pembelajaran di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan Mondyaboni menyerahkan bantuan dari Gubernur Sumsel Herman Deru kepada Muhammad Zurian, siswa SMP Negeri 48 Palembang, Jumat (11/9/2026). Bantuan tersebut diberikan untuk mendukung Zurian tetap mengikuti pembelajaran di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.
Example 468x60

PALEMBANG, opsi.co.id |Keterbatasan ekonomi tidak semestinya menjadi alasan seorang anak kehilangan kesempatan untuk belajar. Prinsip itulah yang coba diwujudkan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melalui perhatian dan dukungan terhadap siswa yang menghadapi kendala dalam mengakses pendidikan.

Kepedulian tersebut ditunjukkan Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru melalui bantuan kepada Muhammad Zurian, siswa SMP Negeri 48 Palembang yang harus berjuang mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) di tengah keterbatasan fasilitas keluarga.

Example 300x600

Bantuan itu diserahkan secara langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan Mondyaboni, S.E., S.Kom., M.Si., M.Pd., yang mewakili Gubernur Sumsel, bersama Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Sumsel, Jumat (11/9/2026).

Kisah Zurian menggambarkan bagaimana persoalan ekonomi dapat bersinggungan langsung dengan akses pendidikan. Di keluarganya, telepon seluler bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga menjadi sarana untuk menopang kehidupan sehari-hari.

Ayah Zurian bekerja sebagai pengemudi ojek dan hanya memiliki satu telepon seluler. Ketika perangkat tersebut digunakan untuk mengikuti pembelajaran daring, sang ayah harus kehilangan kesempatan menggunakan ponsel untuk menunjang pekerjaannya mencari penghasilan.

Kondisi itu membuat Zurian harus mencari jalan lain agar tetap dapat mengikuti pembelajaran.

Alih-alih berhenti belajar, Zurian memilih datang ke sekolah untuk mengambil maupun menyetorkan tugas. Hal tersebut dilakukannya secara rutin dari Senin hingga Sabtu, meski harus menghadapi berbagai keterbatasan.

Perjuangan tersebut menjadi gambaran bahwa semangat seorang siswa untuk memperoleh pendidikan terkadang harus berjalan beriringan dengan kondisi keluarga yang serba terbatas.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pun hadir untuk memberikan dukungan. Bantuan berupa sembako dan dukungan lainnya diberikan kepada keluarga Zurian sebagai bentuk perhatian pemerintah sekaligus upaya meringankan beban yang dihadapi keluarga.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan Mondyaboni mengatakan, perhatian terhadap kondisi siswa merupakan bagian penting dalam memastikan tidak ada anak yang tertinggal hanya karena persoalan ekonomi.

Melalui dukungan tersebut, pemerintah berharap Zurian tetap memiliki semangat untuk belajar dan terus mengembangkan potensinya demi meraih cita-cita.

“Pendidikan harus dapat dirasakan seluruh anak tanpa membedakan kondisi ekonomi keluarga,” menjadi semangat yang terus didorong pemerintah dalam memperluas akses pendidikan yang inklusif.

Bagi Zurian, bantuan tersebut bukan sekadar bantuan material. Dukungan itu juga menjadi pesan bahwa perjuangannya untuk tetap belajar mendapat perhatian.

Di tengah keterbatasan, langkah Zurian untuk tetap datang ke sekolah dan menyelesaikan tugas menjadi pengingat bahwa semangat belajar dapat tumbuh bahkan dalam kondisi yang tidak mudah.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melalui Dinas Pendidikan juga menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi peserta didik yang menghadapi hambatan dalam mengakses layanan pendidikan.

Upaya tersebut diarahkan agar pendidikan di Sumatera Selatan dapat berlangsung secara inklusif, adil, dan merata, sehingga kondisi ekonomi tidak menjadi tembok bagi anak-anak untuk meraih masa depan.

Kisah Zurian pada akhirnya bukan hanya tentang keterbatasan sebuah keluarga. Lebih dari itu, kisah tersebut menjadi cermin bahwa di balik setiap anak yang berjuang mempertahankan pendidikannya, ada tanggung jawab bersama untuk memastikan cita-cita mereka tidak terhenti hanya karena keadaan.

Semangat belajar Zurian diharapkan terus terjaga. Sebab, pendidikan bukan hanya tentang mengikuti pembelajaran hari ini, tetapi juga tentang membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Example 300250
Example 120x600