Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
banner 728x250
Berita

Kabut Asap Mengusik Sekolah di Sumsel, Disdik Serahkan Kebijakan PJJ kepada Daerah

22
×

Kabut Asap Mengusik Sekolah di Sumsel, Disdik Serahkan Kebijakan PJJ kepada Daerah

Sebarkan artikel ini
Aktivitas belajar siswa di tengah kondisi kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Dinas Pendidikan Sumsel mengimbau sekolah menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan kondisi kualitas udara, termasuk menerapkan tatap muka terbatas atau pembelajaran jarak jauh demi menjaga kesehatan siswa dan guru.
Aktivitas belajar siswa di tengah kondisi kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Dinas Pendidikan Sumsel mengimbau sekolah menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan kondisi kualitas udara, termasuk menerapkan tatap muka terbatas atau pembelajaran jarak jauh demi menjaga kesehatan siswa dan guru.
Example 468x60

PALEMBANG, opsi.co.id | Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Selatan mulai mengusik aktivitas pendidikan. Kondisi kualitas udara yang memburuk membuat sekolah harus mengambil langkah adaptif agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan dan kesehatan siswa maupun guru.

Dinas Pendidikan Sumatera Selatan (Disdik Sumsel) telah menerbitkan surat edaran kepada satuan pendidikan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Example 300x600

Kepala Dinas Pendidikan Sumsel, Hj. Mondyaboni, mengatakan kebijakan pembelajaran di tengah kondisi udara yang tidak sehat tidak diberlakukan secara seragam. Setiap daerah diberi ruang untuk menentukan langkah sesuai kondisi lapangan dan perkembangan indeks kualitas udara (IKU) harian.

Menurut dia, sekolah perlu mencermati kondisi udara di wilayah masing-masing sebelum menentukan pola pembelajaran. Pilihannya dapat berupa pembelajaran tatap muka secara terbatas maupun pembelajaran jarak jauh (PJJ).

“Kami sudah mengeluarkan edaran dua kali ke sekolah mengenai antisipasi kabut asap. Kami berharap sekolah menyesuaikan dengan keadaan di daerah masing-masing, apakah dengan tatap muka terbatas atau PJJ,” ujar Mondyaboni.

Ia menyebut sejumlah daerah telah mengambil langkah menerapkan PJJ karena kondisi kabut asap dinilai cukup pekat. Di antaranya Kota Palembang dan Banyuasin, selain beberapa wilayah lain yang juga terdampak.

Kebijakan tersebut, kata Mondyaboni, pada dasarnya menempatkan aspek kesehatan peserta didik sebagai pertimbangan penting, sembari memastikan proses pendidikan tidak terhenti.

Persiapan Program Pertukaran Guru

Di tengah persoalan kabut asap yang belum sepenuhnya mereda, Disdik Sumsel juga tetap menjalankan agenda peningkatan mutu pendidikan.

Pekan depan, perwakilan program Bridge bersama Kedutaan Besar Australia dijadwalkan berkunjung ke Sumsel. Kedatangan tersebut berkaitan dengan pelaksanaan pelatihan program DRITS bagi guru dari delapan sekolah terpilih.

Peserta program berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, SMA hingga pondok pesantren.

Program tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi agenda pelatihan, tetapi juga membuka ruang lebih luas bagi peningkatan kompetensi guru serta pertukaran pengetahuan dan budaya antara pendidik Indonesia dan Australia.

“Program ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi dan kualitas guru, sekaligus membuka ruang pertukaran budaya dan informasi pendidikan antara Australia dan Indonesia,” kata Mondyaboni.

Dilema Siswa Kelas XII

Persoalan kabut asap menjadi semakin kompleks bagi siswa kelas XII. Di satu sisi, mereka membutuhkan pembelajaran secara langsung untuk mengejar materi dan mempersiapkan berbagai tahapan pendidikan lanjutan. Di sisi lain, kondisi udara yang buruk dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan.

Situasi itu dirasakan Muhammad Dafa Al-Asri, siswa kelas XII SMK Negeri 5 Palembang.

Dafa mengaku lebih nyaman mengikuti pembelajaran tatap muka karena penjelasan guru secara langsung dinilai lebih mudah dipahami. Terlebih, siswa kelas XII tengah berada pada fase penting untuk mempersiapkan berbagai agenda akademik dan seleksi masuk perguruan tinggi.

“Menurut saya pembelajaran tatap muka itu lebih enak daripada PJJ, karena materi dari guru lebih masuk dan kami harus menghadapi persiapan kelas XII seperti TKA, SNBP, dan SNBT,” ujar Dafa.

Namun, ia memahami bahwa kondisi setiap siswa tidak sama. Ada teman-temannya yang memiliki riwayat penyakit atau gangguan pernapasan sehingga membutuhkan perlindungan lebih dari paparan udara yang tercemar.

Karena itu, Dafa berharap pemerintah dan sekolah dapat mengambil kebijakan yang mempertimbangkan kedua kepentingan tersebut.

“Kami juga mengerti ada teman-teman yang memiliki riwayat penyakit bawaan atau gangguan pernapasan sehingga membutuhkan PJJ. Harapan kami ada kebijakan yang bijak dari pemerintah, seperti penyesuaian jam masuk sekolah saat pagi hari ketika kabut masih tebal,” katanya.

Bagi Dafa, pembelajaran tatap muka tetap menjadi harapan karena masa kelas XII sangat menentukan langkah pendidikan berikutnya. Namun, ia menilai PJJ dapat menjadi pilihan apabila kondisi udara benar-benar tidak memungkinkan.

“Kami sangat ingin tatap muka karena pelajaran sangat penting untuk persiapan masa depan kami. Cuma kalau situasinya tidak memungkinkan dan semakin parah, daripada kesehatan menurun, dialihkan ke PJJ menurut kami tidak masalah,” ujarnya.

Ia pun berharap persoalan karhutla yang menjadi salah satu sumber munculnya kabut asap dapat segera ditangani secara serius.

“Harapan besar kami, semoga ada solusi nyata dari pemerintah untuk mengatasi karhutla agar asap ini bisa segera hilang,” kata Dafa.

Di tengah kabut asap yang masih menjadi ancaman, harapan para siswa sebenarnya sederhana: mereka ingin tetap belajar, mengejar cita-cita, sekaligus tetap berada dalam lingkungan yang aman dan sehat.

Bagi dunia pendidikan, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa keberlangsungan pembelajaran dan perlindungan kesehatan siswa harus berjalan beriringan.

Example 300250
Example 120x600